“Tuhan tidak akan membiarkan sekecil apapun kebaikan menjadi sia-sia. Berangkatlah dengan penuh keyakinan, berjalanlah dengan penuh keikhlasan dan istiqomah dalam menghadapi cobaan" - (Abdillah Irsyad El Nur)

D. Zawawi Imron (Sang Celurit Emas Dari Madura)



Pendahuluan

Ketika kebanyakan teman-teman peserta “Lomba Menulis, Tokoh Yang Mengispirasi 2010” berlomba-lomba mengambil figur/tokoh luar negeri, penulis mencoba mengulas tokoh daerah asal penulis sendiri yaitu Madura, dalam partisipasi kali ini demi menyemarakkah dan demi mensukseskan lomba “Lomba Menulis, Tokoh Yang Mengispirasi 2010”. Adalah D. Zawawi Imron yang menurut penulis telah banyak menginspirasi penulis-penulis Madura dan bahkan penulis nasional sekalipun.

D. Zawawi Imron yang hanya bisa mengenyam Sekolah Rakyat (SR) karena terkendala biaya pendidikan untuk melanjutkan sekolah, bahkan beliau sampai sekarang tidak hafal bulan dan tanggal berapa beliau dilahirkan. Tapi demi ilmu dan pada khususnya pada dunia sastra kecintaannya tak patah arang begitu saja, beliau rela berjalan sejauh satu kilo meter demi membaca puisi di koran harian.

Dan hasil jerih payahnya pun tidak sia-sia, beliau sukses dengan puisi-puisinya yang memukau dengan tema-tema daerah yang mampu memnggentarkan kesusastraan nasional dan bahkan dikancah kesusastraan Internasioal. Tapi bukanlah D. Zawawi Imron jika sudah sukses dengan nama besarnya lantas melupakan desa kelahirannya. Nama boleh melambung hingga Internasional, tapi kecintaan pada Madura tetaplah tertanam dalam dada, itu terbukti, hingga kini beliau masih tetap tinggal di rumah sederhananya di desa Batang-Batang, ujung timur pulau Madura, kabupaten Sumenep.

D. Zawawi Imron mulai terkenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 1982. Beliau yang tidak sempat menamatkan Sekolah Rakyat (SR, setara dengan Sekolah Dasar), lalu beliau melanjutkan pendidikannya di Pesantren Lambicabbi, Gapura, Semenep. Hingga pada akhirnya kumpulan sajaknya “Bulan Tertusuk Ilalang” menginspirasi Sutradara Garin Nugroho untuk membuat film layar perak dengan judul yang sama “Bulan Tertusuk Ilalang”. Kumpulan sajaknya “Nenek Moyangku Airmata” terpilih sebagai buku puisi terbaik dengan mendapat hadiah Yayasan Buku Utama pada 1985.

Pada 1990 kumpulan sajak “Celurit Emas dan Nenek Moyangku Airmata” terpilih menjadi buku puisi di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Juara pertama sayembara menulis puisi AN-teve dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-50 pada 1995. Buku puisinya yang lain adalah “Berlayar di Pamor Badik” (1994), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Madura, Akulah Darahmu (1999), dan Kujilat Manis Empedu (2003). Beberapa sajaknya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia yang diatanranya ke dalam Bahasa Inggris, Belanda dan Bulgaria.

Saat ini beliau menjadi Anggota Dewan Pengasuh Pesantren Ilmu Giri (Yogyakarta). Beliau banyak berceramah Agama sekaligus membacakan sajaknya, di Yogyakarta, ITS. Surakarta, UNHAS Makasar, IKIP Malang dan Balai Sidang Senayan Jakarta. Pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunei Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunei Darussalam (Maret 2002). 

Hingga kini, beliau masih setia tinggal di Batang-batang, Madura, tanah kelahiran sekaligus sumber inspirasi bagi puisi-puisinya.


D. Zawawi Imron Dalam Inspirasi

Zawawi Imron adalah seorang penyair penting Indonesia yang sangat produktif, tanpa pendidikan dan pergaulan intelektual yang memadai. Tidak seperti banyak pernyair Indonesia, beliau tetap memilih tinggal di desa kelahirannya, tempat inspirasi bergumul dengan imajinasi yang kemudian diolahnya menjadi konstruksi estetis yang sangat memukau.

Dalam hubungannya dengan kepenyairan beliau, yang paling penting dari desa kelahirannya ialah kekayaan alamnya —kekayaan alam di mata seorang penyair. Sudah barang tentu terdapat hubungan kompleks antara alam desa dengan kepenyairan beliau, yang tidak mungkin direduksi menjadi sekedar hubungan kausalitas linear. Tapi apa pun bentuk hubungan itu, desa Batang-Batang pastilah memiliki arti penting bagi beliau.

Orang cenderung tergoda untuk membandingkan puisi-puisi D. Zawawi Imron dengan puisi-puisi Abdul Hadi W.M. karena mereka berasal dari daerah yang sama, di samping karena keduanya sama-sama mangangkat Madura dalam karya mereka. Ketika membicarakan penyair-penyair Indonesia dekade 1970-an yang belum benar-benar menonjol, A. Teeuw mengatakan bahwa D. Zawawi Imron adalah “seorang penyair dari Madura, dengan mutu sajak-sajaknya yang agak kontroversial dan tak sedikit pun mendekati mutu karya-karya rekan sepulaunya, Abdul Hadi” 

Meskipun demikian, sajak-sajak beliau tetap relatif jarang dibicarakan atau dibahas dalam publikasi-publikasi luas dan terbuka, kecuali penelitian-penelitian akademis untuk keperluan tugas-tugas akhir kesarjanan di beberapa universitas, khususnya oleh Subagio Sastrowardoyo khusus untuk Bulan Tertusuk Lalang dan Nenekmoyangku Air Mata (Subagio Sastrowardoyo, 1989: 208-221). Seraya mengatakan bahwa secara subjektif Subagio menyukai puisi-puisi beliau, dia menunjukkan pula keganjilan-keganjilan imajinya, yang menurut Subagio mengurangi tenaga ucap puisi-puisi beliau sendiri. Tapi dia segera mengatakan bahwa apa pun wujud puisi-puisi beliau, dia tetap mencintainya. Sebab bagaimanapun, bagi Subagio (Subagio Sastrowardoyo, 1989: 219-220), D. Zawawi Imron telah mencapai kematangan mengucap dan bersikap. Bahasa puisi bukan soal kata-kata dengan bunyi dan makna denotatif dan konotatifnya belaka, tetapi juga soal angan-angan yang timbul dari konteks kata, serta struktur yang merupakan kebulatan dan kepaduan bicaranya. Dan D. Zawawi Imron telah berhasil mencapai pengucapan pribadi yang khas itu.

Orientasi D. Zawawi Imron sebagai penyair yang mengerahkan energi kreatifnya untuk menghadirkan Madura dalam puisi Indonesia dengan memetik diksi alam dan budaya (tradisi) Madura agaknya merupakan upaya untuk menelisik manusia dan kehidupan sosial masyarakat Madura. Dalam hal ini manusia dan masyarakat Madura hidup di dua alam, yakni alam budaya modern (kota) dan budaya tradisi (kampung). Itu sebabnya hubungan desa dan kota menjadi tema utama yang digelisahkan beliau, selain tema eksistensi diri beserta kegelisahan, kesunyian, dan perenungan hakikat hidup yang menyertainya. Jika dilihat dari sudut ini, ada banyak puisi beliau yang sesungguhnya merupakan protes sosial meski dilantunkan sebagai nyanyian pilu, bukan teriakan dari tangan yang dikepalkan.

Hubungan antara desa (tradisi) dan kota (modernitas) dalam puisi-puisi beliau agaknya memang merupakan masalah sosial yang membelit manusia (masyarakat) Madura dewasa ini. Desa yang sunyi, miskin, dan terlupakan dengan sendirinya mendorong beliau bertanya, misalnya, arti kemerdekaan bagi orang dusun (“Puisi Hitam”), kemiskinan dan nasib menyedihkan di tanah Madura yang kerontang (“Dari Kamal ke Kalianget”), kebiasaan merantau dan kesepian para petani (“Pengembara”), makna dan hakikat merantau untuk menghapus kemiskinan, memperluas persahabatan dan memperdalam pengalaman (“Ayah”), dan nasib tragis yang mengharukan bagi orangtua/kakek-nenek yang ditinggal anak/cucunya mengembara/merantau (“Mawar dan Nenek Tua”).

Seperti umumnya kondisi daerah-daerah di Indonesia, Madura dalam puisi-puisi beliau hadir sebagai masyarakat yang dirundung kemiskinan. Sebagaimana juga terlihat dari puisi-puisinya, baik eksplisit maupun implisit, kemiskinan itu terjadi karena pembangunan di negeri ini terlalu berpusat di kota-kota besar, terutama Jakarta, bahkan ketika era Reformasi atau politik desentralisasi (otonomi daerah) sudah hampir 10 tahun kini bergulir. Di Indonesia kata “daerah” sering langsung berkonotasi negatif karena merupakan tanda kemiskinan, pinggiran, udik, kurang beradab, kurang maju, terbelakang, baik dalam hal pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan. Orang-orang daerah dalam konteks ini dapat dikatakan mengalami semacam perasaan homeless karena di satu sisi berhadapan dengan dunia modern (budaya kota) yang tidak mudah untuk dimasuki, di sisi lain akar budaya (tradisinya) mulai lepas dari jiwa dan raganya.

Gambaran kondisi Madura sebagai daerah miskin dan terpinggirkan memang tidak sulit ditemukan dalam puisi-puisi beliau. Akan tetapi, meskipun Madura itu miskin, ternyata penduduknya amat mencintainya sehingga mereka yang merantau selalu merindukan untuk kembali ke kampung halaman. Pulang menjadi sesuatu yang dirindukan karena meskipun Madura itu miskin dan kerontang, pada akhirnya merupakan tempat yang kepadanya segala cinta dan luka dilekatkan. Madura —perhatikan puisi “Madura, Akulah Lautmu”, “Madura, Akulah Darahmu”, atau puisi “Ibu”— bagi beliau rupanya adalah darah, tangis, jantung, dan hati yang senantiasa memompa gairah hidup orang Madura meskipun dalam kondisi miskin, kesepian, dan terlupakan. Dalam penggambaran semacam ini terasa nada umum puisi-puisi beliau adalah semacam ode (pujaan) untuk “tanah air” atau “tanah kelahiran” yang bernama Madura itu.

Selain mencintai dan memuja Madura, beliau adalah penyair yang amat mencintai dan memuja sosok ibu, baik ibu sebagai ibu biologis maupun ibu sebagai “spirit” yang dalam hal ini boleh jadi adalah Madura sendiri. Bagi beliau, ibu (perempuan) tegas memiliki makna luhur sehingga leluhurnya (kesedihan, penderitaan) adalah nenek moyang (nenek moyangku airmata, katanya!). Maka, beliau tidak menyebut leluhur dalam pengertian manusia pendahulu dengan sebutan “nenek moyang”, melainkan “kakek moyang” karena nenek moyang adalah air mata (Madura) itu.

Jika dilihat dari cara bertutur, puisi-puisi beliau umumnya bersifat (puisi) lirik. Oleh karena itu, ia tidak lain adalah seorang penyair lirik yang memiliki kepekaan kuat terhadap geliat dan “putih tulang” kata yang disentuhnya. Dalam puisinya “Bantalku Ombak Selimutku Angin” terdapat pula sejumlah puisi naratif-dramatik atau paling tidak paduan lirik-naratif, seperti tampak pada puisi-puisinya yang mengisahkan suatu peristiwa, termasuk ode untuk para pahlawan, leluhur, dan sejenisnya. Namun, kekuatannya dalam menemukan kata, menyusun kata-kata dalam suatu rangkaian majas yang segar, tidak bisa tidak memperkuat keberadaannya sebagai penyair lirik penting di Indonesia.

Sudah dikatakan di muka, secara umum puisi-puisi beliau adalah puisi-puisi yang memperlihatkan rasa cinta yang dalam terhadap alam budaya Madura. Dengan mengambil contoh puisi “Madura, Akulah Darahmu” dan puisi “Ibu”, melalui esei “D. Zawawi Imron: Duta Madura untuk Sastra Indonesia” Jamal D. Rahman, bahkan menegaskan bahwa cinta beliau terhadap Madura adalah cinta yang aktif, hal yang berbeda dengan cinta pada sosok ibu yang bersifat pasif.

Cinta yang mendalam dan aktif terhadap Madura itulah yang membuat beliau terus berproses menulis puisi yang senantiasa berakar pada alam dan budaya Madura. Dalam banyak puisi-puisi beliau tegas terasa bahwa sepahit apa pun kampung halaman tetaplah tampil sebagai kampung halaman yang dirindukan. 

Penutup

D. Zawawi Imron adalah “penyair Madura” par excellence. Penyair yang menulis dalam bahasa Indonesia dengan mengangkat khazanah Madura dalam sajak-sajaknya. Yakni penyair yang menjadikan Madura hadir secara amat bermakna dalam khazanah sastra Indonesia. Lahir, tumbuh, dan besar di Madura tentu membuat beliau akrab dengan idiom-idiom Madura, sehingga beliau bisa memaknainya secara intens dalam sajak. Yang lebih penting adalah bahwa beliau tampak melakukan pergulatan batin dan dialog dengan lingkungan terdekatnya: pohon siwalan, lenguh sapi, kalung genta sapi kerapan, saronen (musik tradisional Madura pengiring kerapan sapi), legenda rakyat Madura, kemarau, laut, dan lain-lain. Madura telah menjadi sumber inspirasi sejak masa-masa paling awal karir kepenyairan beliau.

Madura terasa kental mewarnai puisi-puisi beliau terutama yang terkumpul dalam Semerbak Mayang (1977) Madura, Akulah Lautmu (1978), dan dan Tembang Dusun Siwalan (1979) —yang kemudian diterbitkan kembali bersama sejumlah puisi lain dalam “Bantalku Ombak Selimutku Angin” (1996). Semua judul antologi tersebut menyiratkan warna lokal Madura. Lebih dari itu, judul antologi puisi terakhir sengaja diambil dari lirik nyanyian tradisional Madura, yang menyiratkan pengakuan penyair bahwa beliau secara sadar memang menimba dari sumber-sumber Madura untuk puisi-puisinya dalam buku tersebut.

Bahkan beliau bukan saja mengakui Madura sebagai sumber inspirasi puisi-puisinya, melainkan juga “mengankat” atau mengklaim dirinya sebagai laut dan darah Madura itu sendiri. Beliau memberi judul kumpulan puisinya “Madura, Akulah Lautmu”, lalu menulis sebuah sajak berjudul “Madura, Akulah Darahmu”. Klaim yang sepintas terkesan ambisius ini seakan menegaskan bahwa beliau adalah duta Madura dalam puisi dan sastra Indonesia modern. Sejauh ini, klaim tersebut mungkin tidak berlebihan, mengingat beliaulah penyair (Madura) yang paling rajin menggali kekayaan alam Madura —sekali lagi: kekayaan di mata seorang penyair— untuk keperluan sajak-sajaknya. Dan melalui beliaulah Madura hadir secara lebih kaya dan elegan dalam khazanah puisi Indonesia.

Berbeda dengan kebanyakan sastrawan Indonesia yang tidak betah di “kampung halamannya”, D. Zawawi Imron hingga kini menetap di Madura dan terus menulis puisi dengan muatan keMaduraan. Adakah ia merasa jemu sebagaimana Ajip Rosidi dan sastrawan lain yang kemudian menjadi “Malinkundang”, sebagaimana tampak pada banyak karya sastra kita?!

Mungkin hanya beliaulah yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Namun, patut dicatat bahwa beliau tidak melulu hidup dan menulis tentang Madura. Beliau intens menulis khazanah Bugis-Makasar (Berlayar di Pamor Badik, 1994), menulis persentuhannya dengan Eropa (Refrein di Sudut Dam, 2003), bahkan menulis masyarakat Gorontalo (Zamrud Serambi Madinah, 2004). Dengan kata lain ia “merantau” juga ke alam budaya di luar Madura, sekaligus mengembara ke banyak kota dan daerah, baik di Indonesia maupun di mancanegara.


DATA DIRI D. ZAWAWI IMRON

Nama : D. Zawawi Imron
Lahir : Sumenep, Madura, 1945 [tanggal dan bulan tidak diketahui]
Agama : Islam

Pendidikan
• Sekolah Rakyat (tidak tamat).
• Pesantren Lambicabbi, Gapura, Sumenep

Jabatan Saat Ini
• Penyair.
• Anggota Dewan Pengasuh Pesantren Ilmu Giri Yogyakarta
• Penulis Tetap Kebudayaan Jawa Pos

Karya Kupulan Puisi:
• Semerbak Mayang (1977)
• Madura Akulah Lautmu (1978).
• Dusun Siwalan (1979).
• Celurit Emas (1980).
• Bulan Tertusuk Ilalang (1982), [yang mengilhami film Garin Nugroho berjudul sama].
• Nenek Moyangku Airmata (1985), [mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K].
• Derap-derap Tasbih (1993).
• Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996).
• Lautmu Tak Habis Gelombang (1996).
• Madura Akulah Darahmu (1999).
• Berlayar Di Pamor Badik (1994).
• Kujilat Manis Empedu (2003).
• Refrein di Sudut Dam (2003).
• Zamrud Serambi Madinah (2004).

Buku:
• Keajaiban Haji (1999), [ditulis bersama A. Mustofa Bisri]
• Unjuk rasa kepada Allah (1999)
• Sate Rohani dari Madura: Kisah-kisah Religius Orang Jelata (2001)
• Soto Sufi dari Madura: Perspektif Spiritualitas Masyarakat Desa (2002)

Penghargaan
• Nenek Moyangku Airmata mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K tahun 1985.
• Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K (1985).
• Hadiah utama penulisan puisi ANteve (1995)
• Bersama Dorothea Rosa Herliany, Joko Pinurbo, dan Ayu Utami, Zawawi pernah tampil dalam acara kesenian Winter Nachten di Belanda (2002)


Sumber Rujukan
1.      http://id.wikipedia.org/wiki/D._zawawi_imron 
2.      http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/zawawi.html
3.      Rahman, Jamal D. 2001. “Duta Madura untuk Sastra Indonesia”. Artikel dalam Jurnal Puisi No. 1 Tahun 2001

6 komentar:

Poskan Komentar