“Tuhan tidak akan membiarkan sekecil apapun kebaikan menjadi sia-sia. Berangkatlah dengan penuh keyakinan, berjalanlah dengan penuh keikhlasan dan istiqomah dalam menghadapi cobaan" - (Abdillah Irsyad El Nur)

Mengapa Masyarakat Madura Identik dengan Sarung ?


Hahahaha .... ingin tertawa rasanya ketika teman saya yang dari jawa bertanya tentang "kenapa sih orang Madura itu suka pakai sarung?" Ya itu memang budaya yang sudah turun-menurun ada dalam masyarakat di Madura. Karena memang kultur Islam di Madura sangat kuat, jadi sarung tidak hanya dijadikan alat untuk beribadah saja, tetapi juga dijadikan sebagai identitas dirinya seorang Islam. Saking cintanya , sampai-sampai dikehidupan sehari-hari mereka tak pernah lepas dari mengenakan sarung. :D
Bagi orang Madura sarung bukan sekedar pakaian. Sarung adalah madura itu sendiri. Secara berkelakar pelawak lokal di Madura menyebut fungsi sarung melebihi ideologi. “kalaupun punya ideologi, tapi gak punya sarung, dingin dong kalau hujan”.
Memang sarung bagi orang Madura –lebih-lebih masyarakat pedesaan— melampaui fungsinya sebagai pakaian. Jika musim hujan, sarung seperti melebihi selimut. Agar sarung bisa menutupi seluruh badan sejak kaki hingga kepala, orang Madura biasanya tidur setengah  “melingkar” seperti udang, dengan sedikit memaksa menekuk badannya. Dengan cara seperti itu, cuaca dingin bisa dilawan. Di samping karena bahan sarung terbuat dari katun yang hangat, kehangatan badan terbekap oleh tutupun erat sarung yang membungkus seluruh badan.
Sarung juga identitas. Saya melihat mungkin tak ada suku (muslim) di Indonesia yang begitu setia menggunakan sarung seperti orang Madura. Bagi muslim lain, mungkin sarung yang umum hanya digunakan ketika  mau shalat. Di Madura tidak. Sarung menjadi identitas. Meski tidak bisa digeneralisir, bolehlah dikatakan sarung itu identitas kemaduraan. Wajar, jika orang Madura melakukan perjalanan dan (terpaksa) menggunakan celana, pasti di tasnya tidak lupa diselipkan sarung. Bahkan sampai sekarang, banyak sekali orang Madura yang mungkin saja tidak memiliki satu pun celana.
Kembali ke pertanyaan kawan saya di awal tulisan ini, yang manarik bagi saya bukan pertanyaannya. Tetapi kenapa kawan saya bertanya seperti itu (?) Jawabannya tentu tidak tunggal. Bisa jadi sekedar ingin tahu asal-usul.
Cuma saya harus menjelaskan pertanyaan itu  dalam konteks budaya kawan saya sebagai pembacanya. Ia tinggal di Jakarta. Sebuah kota yang menjadi kiblat dalam keberhasilannya mengikis semua tradisi. Tradisi itu menghambat. Tradisi jadul, kuno, norak. Tradisi itu harus dipinggirkan untuk bisa memuluskan laju modernisasi dengan budayanya yang civilized, yang baru, yang segar, yang rasional.
Jika (pemakai) sarung kemudian ditatap secara nanar, karena ia dipandang tidak –atau kurang—civilized. Ada perasaan iba, kasihan, atau pembacaaan lain yang cenderung underestimate. Pemakai tradisi pasti “megap-megap” menghadapi era modern dengan laju progres-nya, demikin mungkin dalam benaknya si pembaca.
Inilah juga yang terjadi ketika Kepala Sekolah Negeri  dibuat "gelisah" oleh sarung. Saat berkunjung ke pesantren, kasek negeri itu mengeritik guru yang bersarung sebagai "tidak disiplin". Sarung menurutnya, kurang patut dibawa mengajar ke dalam ruang kelas. Tapi ketika guru balik menanyakan, apa hubungannya antara “sarung” dengan kedisiplinan (?), kasek itu diam.

Ah..sarung ternyata bukan sekedar pakaian.

0 komentar:

Poskan Komentar