“Tuhan tidak akan membiarkan sekecil apapun kebaikan menjadi sia-sia. Berangkatlah dengan penuh keyakinan, berjalanlah dengan penuh keikhlasan dan istiqomah dalam menghadapi cobaan" - (Abdillah Irsyad El Nur)

Ketika Aku Berkata "Bila Kasih Tak Sampai"


Guys, ada banyak kisah cinta di dunia ini yang penuh dgn haru-biru. Sebut saja kisah Rama-Shinta, Romeo and Juliet, atau cerita Kais dan Laila, yang semuanya menceritakan lika-liku perjalanan cinta dengan penuh derai air mata.

Kisah kasih seperti pada cerita-cerita seperti di atas mungkin saja pernah terjadi dalam kehidupan kita walaupun dengan alur dan setting yang berbeda. Ada duka, ada suka, ada yang perjalanan cintanya mulus, ada pula yang tersandung berbagai masalah dan tak sedikit pula kisah cintanya bertepuk sebelah tangan.
Pernah nih seorang teman bercerita kepada q tentang kisah cintanya. Kesederhanaan seorang gadis telah mampu memikat hatinya. Namun perasaan cintanya kepada sang gadis tak terucapkan, hanya terpendam di relung hatinya.

Waktu terus berlalu, dan sang gadis dilamar orang. Penyesalan dan kesedihan pun datang disaat pujaan hatinya sudah bersanding bersama orang lain. Jika ia mampu mengungkapkannya sejak dulu, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Begitulah penyesalan teman q tersebut.

Tapi menurut q nih, cepat atau lambat dalam mengungkapkan perasaan tidak akan merubah jalan hidup yang sudah ditetapkan. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi atas keputusan takdir itu. Mungkin kisah q ini akan memberikan gambaran yang jelas.

Dulu pernah q mengagumi seorang wanita. Tidak seperti teman q tadi, aku tidak memendamkan perasaan q itu, perasaan hati aku utarakan langsung kepada wanita itu. Tapi sayang, cinta saya bertepuk sebelah tangan. Namun, namun aku gak berputus asa. Aq terus menaruh harapan untuk bisa mendapatkan hatinya. Do’a tak henti dipanjatkan dan pendekatan dengannya terus dilakukan.

Tiba-tiba aq mendengar kabar yang mengejutkan, wanita yang aq kagumi telah jadian dengan pria pujaan hatinya. Hati q hancur, segala usaha menjadi sia-sia. Lalu aq protes kepada Allah. Kenapa do’a q ini tidak dikabulkan? Padahal sholat selalu q kerjakan tepat diawal waktu, zikir selalu mengiringi do’a yang dipanjatkan, bahkan tahajud pun q lakukan. Tapi kenapa Allah tidak mengabulkan do’a q? Mana janjiMu yang akan mengabulkan setiap do’a-do’a dari hambaMu? Begitulah ungkapan kekecewaan q pada Allah.

Namun, ketika itu juga aku disadarkan oleh suara dalam hati q sendiri, yang mengatakan, sesungguhnya aku tidak berhak menuntut apa-apa, aku tidak berhak atas wanita itu, bahkan aku tidak berhak atas diri q sendiri. Karena semua itu adalah milik Allah, Dialah yang berkuasa dan menentukan pendamping hidup buat wanita itu. Akhirnya, derai air mata kecewa pun berubah penyesalan yang dalam atas dosa q kepada Allah.

Kegagalan cinta – ketika cinta bertepuk sebelah tangan, bila kasih tak sampai terhalang restu, terpisah oleh waktu dan lainnya – sedikitnya pasti menimbulkan kekecewaan di hati. Tidak sedikit pula kita lihat orang yang frustasi karena kasihnya tak sampai. Lantas, kita pun menyalahkan keadaan atas kegagalan itu. Teman ku menyalahkan dirinya yang terlambat mengungkapkan perasaannya kepada sang gadis pujaan, dan aku pernah menyalahkan Allah karena merasa tidak adil. Kita pun akan menyalahkan orang tua apabila mereka tidak memberi restu, menyalahkan kemiskinan ketika sang pujaan hati lebih memilih orang yang bermateri, menyalahkan takdir ketika ajal menjemput kekasih hati, menyalahkan orang lain yang telah berhasil merebut pujaan hati, menyesali pertemuan yang pernah terjadi an lain sebagainya.

Keadaan seperti itu bisa saja membuat kita hilang kendali dan akhirnya menempuh jalan yang salah – nge-drug, pergi ke dukun, membunuh orang, bahkan melakukan bunuh diri – untuk menghapus duka dan kecewa ataupun untuk membalas sakit hati.

Seberat apapun penderitaan dan sehebat apapun kesedihan yang melukai hati kita – sebagai akibat dari kegagalan cinta – marilah kita maknai sebagai bagian dari keputusan yang Maha Kuasa, sebagai skenario dari Allah.

Bagi ku, kegagalan cinta – bila kasih tak sampai – membuat aku mengerti makna cinta sejati. Untuk siapakah sebenarnya cinta sejati itu atau siapakah yang lebih pantas untuk dicintai? Hanya Allah yang pantas kita cintai.

Namun bila aku menyukai seseorang, akan aku berikan kasih sayang atau cinta ku kepadanya sebagai cinta karena kasih sayang, yang telah Allah tanamkan ke dalam hati ku. Bukan cinta disamping cinta kepada Allah. Dengan begini, insya Allah, saya tidak akan merasa kecewa bila gagal dalam cinta atau bila kasih tak sampai.

Semoga sekenario takdir kehidupan kita indah di akhir waktunya.

(^_^)

0 komentar:

Poskan Komentar